Selamat Datang di PanimbangOnline Media Informasi dan Saling Berbagi

Wednesday, January 27, 2016

Contoh Isi Proposal Pengajuan Usaha Budidaya Ikan Lele



A.      Latar Belakang

Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera merupakan upaya menyeluruh dan terpadu yang dilaksanakan oleh unsur-unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat umumnya untuk meningkatkan kualitas keluarga 
agar tercapainya kondisi keluarga sejahtera, yaitu keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.

Salah satu upaya  dalam mewujudkan keluarga sejahtera adalah dengan mengembangkan usaha ekonomi dan menumbuhkan serta memupuk jiwa kewirausahaan khususnya masyarakat nelayan, petani maupun masyarakat ekonomi menengah kebawah. Sebab keterbelakangan sosial ekonomi adalah permasalahan pokok yang harus dipecahkan secara serius. Agar minat / gairah berwirausaha masyarakat di lingkungan Kabupaten Pandeglang dapat tumbuh dan berkembang tentu dibutuhkan pemikiran dan tindaklanjut dari Pemerintah terkait.

Usaha di bidang perikanan dalam hal ini perikanan budidaya saat ini dapat dijadikan usaha andalan dan juga sebagai usahah alternatfe bagi nelayan jikalau nelayan tersebut sedang tidak melaut dikarenakan sedang musim angin barat maupun rusaknya alat tangkap.  Kelompok Usaha Kecil adalah salah satu dari sekian diantara pelaku usaha kecil yang perlu dikembangkan, sebab kapasitasnya kecil mampu menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Pandeglang. Namun demikian, kendala yang dihadapi masyarakat untuk mengembangkan usahanya adalah berkaitan dengan sisi permodalan. Oleh sebab itu, Pemerintah dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan perlu memberikan dukungan penuh melalui program programnya  kepada pelaku usaha khususnya kepada kami pelaku usaha perikanan kecil yang memiliki modal pas-pasan.

  1. Dasar Pengajuan
Semangat berwirausaha dari masyarakat Kabupaten Pandeglang dibidang perikanan  dibidang budiddaya ikan  yang berkah sesuai dengan motto Kabupaten Pandeglang.  Oleh sebab itu, para usaha kecil yang ada dalam wadah Kelompok “hikmah alam” Yang terletak di Kp. Babakan Jati Desa Panimbangjaya Kecamatan Panimbang Kabupaten pandeglang Provinsi Banten ini  merupakan tumpuan harapan hidup kami yang tengah berupaya untuk memajukan dan mengembangkan usahanya.
  1. Misi
-       Meningkatkan peran serta dalam pembangunan sosial ekonomi di Kabupaten Pandeglang
-      Pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap penangananpengangguran dan kemiskinan.
-       Pemberdayaan petani dan Nelayan

  1. Visi
- Mengembangkan usaha di bidang budidaya ikan  sebagai wadah untuk mensejahterakan anggota keluarga khususnya dan masyarakat Pandeglang  pada umumnya.
-    Memajukan dan mengembangkan usaha sesuai potensi yang ada sehingga dapat dan mampu meningkatkan taraf hidup bagi anggota dan keluarga maupun masyarakat nelayan  Kabupaten pandeglang.


  1. Pencapaian Target
Target pemasaran kami meliputi beberapa kota yang ada di wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta dan tak menutup kemungkinan pasar ekport. Kami berharap dengan adanya bantuan permodalan dari pemerintah target pemasaran kami mampu menjangkau wilayah tersebut. Pokdakan hikmah alam menargetkan produksi sekitar 15.000 kg Pertahun.
  1. Potensi Usaha
-          Strengths (kekuatan)
-          Letak geografis Kecamatan Panimbang sangat memungkinkan untuk mengembangkan budidaya ikan lele dengan metode menggunakan polibeg / terpal dan kolam disamping kondisi air  yang mendukung, dekat dengan sumber air ditambah pula dengan ketersedianya bahan pakan karena didukung dengan adanya 3 (tiga) Tempat Pelelangan Ikan (TPI)  yakni TPI Panimbang, TPI Citereup, dan TPI Sidamukti.
-          Weakness (kelemahan)
Yang paling berpengaruh dalam usaha budidaya ikan lele  adalah banyaknya kebutuhan pakan dan kurangnya  ketersediaan bibit ikan, sehingga usaha ini perlu didorong dan dibantu  oleh pemerintah agar target produksi benar benar bisa tercapai
-          Opportunity (peluang)
Peluang Usaha budidaya ikan lele dengan metode polibeg / terpal dan kolam  ini sangat menjanjikan keuntungan, karena permintaan yang sangat tinggi ditambah harga yang cukup varaiatif  untuk ikan lele ini. Dan yang paling menjajnjikan adalah potensi untuk pasar lokal yang terbuka lebar. Selain relatif mudah dalam proses pembesarannya,. Usaha ini menyerap banyak tenaga kerja,  ini merupakan potensi yang bernilai ekonomi bagi siapapun yang ingin terjun dalam usaha ini, modal usaha yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini tidak terlalu besar, usaha ini cukup dilakukan dengan managemen yang sederhana. Dengan Keuletan, kesabaran dan kedisiplinan usaha ini pasti akan membuahkan hasil yang maksimal.
-          Threats (ancaman)
Resiko usaha budidaya ikan ini adalah faktor alam dan faktor manusia, faktor alam dimanana ketika terjadi musim hujan, banyak kolam  yang rusak karena banjir tetapi hal ini dapat diantisipasi dengan menempatkan kolam / polibek  pada tempat yang tinggi dan terlindung dari banjir , untuk desa Panimbanngjaya Kecamatan Panimbang daerah yang cocok untuk penempatan usaha ini adalah derah Kampung  Babakan jati dan Kampung Huni. Faktor manusia adalah sering terjadinya tindakan pengrusakan dan pencurian yang disengaja maupun yang tidak disengaja tapi hal ini bisa diantisipasi dengan mengadakan rumah jaga dan harus ada kerjasama dengan pihak pemuda setempat dan pihak keamanan.





 G.     PENUTUP
Proposal pengajuan usaha Budidaya Ikan air tawar ini adalah sebuah usulan dari kami sebagai petani dan nelayan kecil yang ingin mengembangkan usaha dibidang perikanan  budidaya yang sangat prosfektif sekali untuk dikembangkan diwilayah Kecamatan Panimbang, dimana potensi alam yang melimpah dan mendukung harus kita mamfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan kita bersama. Kami selaku pengurus Kelompok Budidaya Ikan hikmah alam mohon maaf yang sebesar besarnya apabila dalam penyusunan proposal ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, kriktik saran yang membangun sangat kami harapkan dari semua pihak. Semoga program usaha budidaya ikan lele ini membawa mamfaat bagi kita semuanya, Amin….

Monday, January 25, 2016

FISHERIES BANTEN INDONESIA, AN INVESTMENT FOR YOU



Joko Widodo the current government is trying to develop the potential in the maritime field, where the waters of Indonesia's vast and untapped, and certainly not all of them are still in need of businesses, especially in the field of fisheries. and District Panimbang Pandeglang Banten Province is one of the largest fishery producer in Banten both capture fisheries, aquaculture and fishery products other processed products (info: azisazhari1@gmail.com)

Below is an essay that describes the potential of marine resources in the province of Banten.


CHAPTER 1

PRELIMINARY



Banten is a very strategic area in view of the location of the regions bordering the national capital and also as a gateway bridge between Java and Sumatra. With an area of ​​8800.83 km2 and the coastline of 517.42 km, Banten has the potential of marine resources and fisheries are quite large. The potential of fisheries resources in Banten is currently only used 117 170 tonnes / year, while the sustainable potential in the waters of the Java Sea amounted to 847 500 tonnes and 656 000 tonnes of ocean Indonesia.

One of the coastal areas in Banten considerable potential in exploiting marine resources and coastal namely the west coast region Pandeglang. Coastal and marine resources, is one of the basic capital construction Pandeglang this time, in addition to natural resource land. Land natural resources such as oil and gas and certain minerals, diminishing as a result of exploitation that took place long ago. In the oceans contained a very large source of food that fish and seaweed. Other marine resources is offshore mineral that plays an important role in energy supply, as well as many more potential biological and non biological resources other sea so that the role of coastal and marine resources is increasingly important to stimulate economic growth and community needs.

Pandeglang with the area of ​​2.75 thousand km2 divided into 13 districts with a population of about 1.13 million people, of which only 5.22 thousand fishermen or fishing spread across eight coastal areas of western and southern parts Pandeglang, including districts Labuan, Carita, Sukanegara, Panimbang, Citeurep, Wells (Ujung Kulon), Tamanjaya, and Sidamukti with marine fish production amounted to 23.61 thousand tons per year (BPS, 2006). Pandeglang shoreline position is facing the Sunda Strait to approximately 182.8 km long coast, and overlooking the ocean Indonesia approximately 47.2 km. Wealth of natural marine and coastal resources owned Pandeglang district, among others in the form of fishery resources, biological resources such as mangroves (mangroves), coral reefs, seagrass beds, as well as mineral resources such as petroleum and natural gas (which is still in the research) including minerals Other high economic value. A number of marine potential that can be developed including farmed fish of the sea (gulf), snapper, grouper, tuna and shrimp (sea catching), tiger shrimp, red tilapia and tilapia gift (aquaculture, carp and tilapia (cultivation of floating net).

In addition to the natural wealth of marine, coastal communities Pandeglang also take advantage of the sea as the cultivation of shellfish, especially mussels. Shellfish is living marine resources that are readily available in Pandeglang Regency waters, these organisms can be cultivated and environmentally friendly partly because the process does not require the cultivation of feed. Green mussel (Perna viridis) is one type of shellfish that is very popular with the public, shellfish also has economic value both for domestic needs and export.

With the characteristics of coastal areas as above, then the optimal utilization of coastal resources and sustainable can only be realized if the management is done in an integrated manner, applying the principles of sustainable development and pembangunnan approach carefully.











CHAPTER II

POTENTIAL FOR COASTAL AND MARINE AREAS



2.1. Coastal Ecosystems

The western coast facing the Sunda Strait and coastal area facing the ocean Indonesia each have characteristics that are not much different. Coastal areas facing the Sunda Strait rarely overgrown with mangrove forests, but often found coral reefs, because it has a rocky and sandy typology. Likewise, coastal areas overlooking the ocean Indonesia, except the coastal region which is the Ujung Kulon National Parks, still overgrown with mangrove forests, seagrass and seaweed.

a. Mangrove forest

Mangrove is a coastal vegetation that can grow well in tropical and subtropical environments. The mangrove forest is a complex ecosystem and unstable. Mangrove growth area is an ecosystem-specific, this is caused by the process of biota (flora and fauna) that are interconnected both on land and at sea.

Mangrove species most common in coastal areas Pandeglang approximately 1761.39 hectares (data SDKP Banten) is paddy-rice (Lumnitzera racemosa), fires (Avicena Spp), Mangrove-mangrove (Rhizophora), Bogem (Sonneratia Alba), Pedada (Bruguiera spp), Nypa Fructicans and Pakis Swamp (Acrostichum Aureum) in brackish river estuaries. Extensive mangrove forests are on the path along the north side of the ground Genting extends to the north along the coast to the River Cikalong and Legon Lentah Panaitan Island. Above the northwest island Handeuleum and the two small islands in the south near the island of swamp forest Nypha Handeuleum there are not so extensive, also in estuaries Cijungkulon and Cigenter encountered on the North Coast of Ujung Kulon. Mangrove forests are also found on small islands like Pamagangan, boboko, Peucang Panaitan, Deli and Tinjil.

b. Seaweed

Seaweed (Seaweed) is one of the Indonesian export commodities to supply the international market. Seaweeds are traded is a multicellular algae and macro in the taxonomy classified into divisio Thalophyta. This Divisio has four major classes, namely Rhodophyceae (red algae), Phaeophyceae (brown algae), Chlorophyceae (green algae) and Cyanophyceae (algae biruhijau). Four classes are differentiated based pigment and chlorophyll content.

Rhodophyceae generally red, brown, indigo and even green and contain pigment cells fikoeritin. Phaeophyceae generally brownish yellow because the cells containing chlorophyll a and c. Clhorophyceae generally green because the cells containing chlorophyll a and b with little carotene.

The distribution of the types of seaweed in the water is determined by the habitat suitability. Umumya sea grass habitat is on reef flats and attached to the substrate hard objects such as sand, rocks, pieces of dead coral or shells. In accordance with the coral reef environment, where the seaweed grows mostly away from the river mouth.

The types of seaweed found in the waters, among others from the clan Euchema and Hypnea (producer Keraginan), Gracilaria and Gelidium (producer order) belong to a class Rhodophyceae and Sargassum and Turbinaria (producer of alginate) which is a class Phaeophyceae.

Seaweed in natural conditions in Pandeglang only found on the island Liwungan. However, coastal areas of Pandeglang, particularly small islands are rocky and there are many coral reefs is a potential for seaweed farming, including the island Popole, Oar, wells, Omang, Mangir, Deli, Tinjil, and Badul.


c. Seagrass

Seagrass (seagras) is a flowering plant that is already fully adapt to life under the sea level. Seagrass live in shallow waters rather sandy, often also found in the coral reef ecosystem. Seagrass grows tall, thin leaf shaped like a ribbon and sweet roots.

Seagrass beds are often found on islands Pamagangan, boboko, Handeuleum, Peucang, and Panaitan, Pandeglang area of ​​1139.22 ha.

d. Coral reefs

Coral reefs are unique maritime ecosystem, a complex and distinctive, found in tropical and subtropical regions, formed by the coral animal communities for hundreds of years. In geomorphological, coral reefs can be shaped edge (fringing reef), barrier reefs (barrier reef) and coral ring (atoll), as well as flat coral / takat (reef platforms / patch reef)

Form coral reefs, usually in very shallow sea areas, and in general on the beach and near the beach. Coral reefs in Pandeglang area of ​​1,315 hectares, but 543 hectares or 41.29% damaged. The distribution of coral reefs found in the archipelago or small islands with relatively low rainfall, or large island beaches are far from the mouth of the river delta and muddy beach. Coral reefs are often found in coastal areas of Ujung Kulon (33 species of coral) and some coastal areas in small islands such as Pamagangan, boboko, Handeuleum, Peucang, Panaitan and Badul.

2.2. Utilization of Marine Ecosystems

- Mangrove. The benefits and functions of mangrove ecosystem is a habitat that is important as a spawning site and proper care of various types of fish, shrimp and other organisms as well as a habitat for various species of birds, mammals and reptiles.

In addition, mangrove forest ecosystem is one of the few ecosystems that have high productivity as the primary productivity of the rain forests and coral reefs. Besides the direct benefits of mangrove forests that can be felt by humans is wood mangrove trees that can be used as building materials, firewood, charcoal material, pulp material. Mangrove forests serve as wave energy absorbers and retention rate of abrasion even as sedimentation material trappers.

- Seaweed. There are 61 species from 27 genera that have been used for food and industrial raw materials as well as 21 species from 12 genera are used for traditional medicine. It has long been people use natural sea grass communities to be harvested and sold. Due to the high intensity of harvesting the seaweed production of natural progressively reduced.

Seaweeds are classified based on the chemical content of seaweed Agarofit is a group of producers that, Karagenofit group producing carrageenan seaweed, seaweed producer group Alginofit alginate. The use of seaweed in Pandeglang is still very low and needs to be developed to obtain additional income for coastal communities.

Seagrass -Padang. The main function of seagrass is able to stabilize the seabed, trap sediments, food for species other biota, the growth of various marine habitats, growing algae and algae is a food fish, and can be used as food and fertilizer materials, eg type of Samo-Samo ( Enhalus acoroides). Seagrass beds are often found in marine waters between mangrove forests and coral reefs.

-Coral reefs. The benefits and functions of the coral reefs are contributing to the fishery in three ways, namely, fishing directly above the reef, fishing shallow coastal waters that have the support of the food chain, the cycle of life and productivity of coral reef and offshore fishing.


For humans reef useful as a natural resource that can be utilized as a warehouse of food, drug and cosmetic ingredients, tourist sites and sports and in the field of science as an object of study and research. For other organisms, coral reefs are the marine ecosystem in the function has a unique habitat, communities and symbiotic colony of various marine organisms, both flora and fauna. To an island, coral reefs also serve as protection from the threat of coastal erosion and degradation.

2.3. Utilization Potential of Coastal and Marine

Coastal and marine areas Pandeglang is a potential for the economy of coastal communities and government Pandeglang. Several potential of marine and coastal areas that have been exploited for a long time including capture fisheries and aquaculture shellfish, while the potential for coastal areas that have not been used optimally include shrimp farming, seaweed and milkfish high economic value and have a wide market in the country and overseas.

2.3.1. Fisheries

Utilization of marine products into commodity Pandeglang karapu including fishing, snapper, tuna and shrimp. Marine fishery production ready to be processed during 2006 reached 23.61 thousand tons (data BPS), which used to be consumed fresh, salted, dipindang and others. Although marine biota Pandeglang district has the potential of tuna and tuna, but utilization is not optimal.

2.3.2. Green Shellfish Aquaculture

Green mussel cultivation developed in the district Panimbang and Citereup Pandeglang. In view of the abundance of the resource potential of the green mussel and easily cultivated and relatively simple model, the cultivation of mussels become one menyedikan efforts in employment, increase income and nutrition or cheap animal protein. It is very helpful for increasing fish production in general.

Shellfish is living marine resources that are readily available in coastal waters Pandeglang, biota, is easily cultivated and environmentally friendly partly because the process does not require the cultivation of feed. Green mussel (Perna viridis) is one type of shellfish that is very popular with the public. Shells of this type also have economic value both for domestic needs and for export.

Cultivation of green mussel (Perna viridis) have the potential for profitable business and a great opportunity to be exported because it has a high selling price, if it runs a synergy between the sustainability of products, product quality control and selection conditions of the products high value, then the product oyster in Pandeglang can penetrate the Asian market and the EU, advantages of green mussel farming is no feeding and deadly disease.

Usually when the local market demand increases, the cultivation of mussels increasingly intensified. Green mussel processing activities generate solid waste is high enough. The large amount of solid waste generated green shells, serious efforts are needed to address in order to be beneficial and reduce the negative impact on human health and the environment. During this time in the form of solid waste clam shell is only used as a wall decoration materials, handicrafts, or even as a mixture of animal feed. Waste treatment is of course not have a great added value because it is still limited in terms of price and quantity of production. Efforts to diversify the utilization of waste in the form of human food products which are formulated in the form of flour as a source of natural calcium fortification and applied as an ingredient in a product crackers.

Agency for Marine and Fisheries Research (BRKP) and the Center for Marine Aquaculture (BBL) has developed oyster farming in the waters Panimbang Pandeglang area of ​​2316.5 hectares. Pandeglang green shells in coastal waters and unspoiled match at all, compared with the waters of Jakarta Bay polluted industrial waste. Importing countries will pass the green mussel exports from Pandeglang, because the area is free of pollution.

2.4. Biological Resource Management Policy

To preserve biological resources it needs integrated management policy between the government, public and private, including:

1. Promote the preservation, protection and improvement of the condition of ecosystems (coral reefs, sea grass, seagrass, and mangrove)

2. Improve cooperative relationships between institutions to be able to draw up and implement programs for ecosystem management.

3. Develop spatial planning and management of coastal and marine areas to maintain the sustainability of the ecosystem.

4. Enhancing cooperation, coordination and partnerships between government and local governments and communities in decisions about ecosystem management.

5. Improving the welfare of coastal communities through the development of economic activity.

6. Developing science and technology, research, information systems, education and training in the management of ecosystems.

7. Digging and increase funding for ecosystem management.


While the strategy of economic development of marine and territories pessir undertaken to improve the lives of coastal communities include:

1. Optimization of shellfish aquaculture centers.

2. Use of a long coastline for aquaculture shrimps, milkfish and seaweed.

3. Increase the productivity of marine fish catches.

4. The development of algae cultivation.

5. Expand the marine commodity markets.

6. Building a marine commodity processing industry.

7. intensive program of planting of mangrove trees.



CHAPTER III

COVER


From the description of the potential of coastal areas and marine in Pandeglang, it can be concluded that:

1. Pandeglang had a fairly extensive coastal areas along the 230 km, of which 182.8 km facing the Sunda Strait and along the 47.2 km facing the Indonesian Ocean.

2. Pandeglang divided into eight coastal areas, including Labuan, Carita, Sukanegara, Panimbang, Citeurep, Wells (Ujung Kulon), Tamanjaya, and Sidamukti with marine fish production average of 23.61 thousand tons per year.

3. A number of marine potential that can be developed including farmed fish of the sea (gulf), snapper, grouper, tuna and shrimp (sea catching), tiger shrimp, red tilapia and tilapia gift (aquaculture, carp and tilapia (aquaculture nets floating) ,

4. To support the potential of marine and coastal areas, then the sustainability of marine ecosystems is needed. Preservation of natural mangrove forests and seagrass are still often found in Ujung Kulon, as well as coral reef area of ​​1,315 km2 in the western and southern coast of Pandeglang. Likewise seaweed enough to play a role in the marine ecosystem in coastal areas is pretty much on the coastal islands west Pandeglang.

5. One of the efforts to improve the economy of coastal communities in Pandeglang, by developing the cultivation of mussels (Perna Viridis) quality and free of pollution.

6. The need for environmental management to preserve the integrity of coral reefs, seagrass plants, seaweed and development of mangrove forests around coastal areas throughout the year further reduced, as a result of human damage. Destruction of coral reefs and mangrove forests may lead to decline in the production of fish and other biota.


BIBLIOGRAPHY



1. ---------- (2007), Pandeglang in Figures 2007, BPS

2. Komaat, Joy (2007), The Importance of Spatial Management of Coastal Areas and Small Islands

3. ----------- (2005) Biodiversity Management Synchronization, BLPHD

4. Setiawan, Asep (2006), Development Masterplan Banten

5. ----------- (2007), Potential of Marine and Fisheries, KPDE

6. ---------- (2007) Natural Resources and Environment, KPDE

7. ---------- (2005) Green Shellfish From Jakarta Bay Not Eligible Consumed, Kapanlagi.com

8. ----------- (2007) Green Shellfish Aquaculture Development, BKPMD

9. Wahyuni, Mita, Dr. (2007) Crackers High Calcium: Repair Value Added Waste Scallop Shells Green Through Appropriate Technology Applications

10. ---------- (2006), Bantam: Sentra oyster cultivation in Indonesia, Banten Info

11. ----------- (2005), Ecosystem Type Ujung Kulon, Ujung-kulon.net

Sumberdaya Pesisir dan Kelautan Banten


BAB I
PENDAHULUAN
Banten merupakan wilayah yang sangat strategis mengingat letak daerahnya berbatasan dengan ibu kota negara dan juga sebagai jembatan gerbang antara Jawa dan Sumatera. Dengan luas wilayah 8.800,83 Km2 dan garis pantai 517,42 km, Banten memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar. Potensi sumberdaya perikanan tangkap di Banten saat ini baru dimanfaatkan 117.170 ton/tahun, sedangkan potensi lestari di perairan laut Jawa sebesar 847.500 ton dan samudera Indonesia sebesar 656.000 ton.
Salah wilayah pesisir di daerah Banten yang cukup berpotensi dalam memanfaatkan kekayaan laut dan pesisir yaitu wilayah pesisir pantai barat Kabupaten Pandeglang. Sumberdaya pesisir dan lautan, merupakan salah satu modal dasar pembangunan Pandeglang saat ini, disamping sumberdaya alam darat. Sumberdaya alam darat seperti minyak dan gas bumi serta mineral-mineral tertentu, semakin berkurang akibat eksploitasi yang berlangsung sejak lama. Didalam lautan terkandung sumber pangan yang sangat besar yakni ikan dan rumput laut. Sumberdaya laut lainnya adalah bahan tambang lepas pantai yang berperan penting untuk menyuplai energi, serta masih banyak lagi potensi sumberdaya hayati dan non hayati laut lainnya sehingga peranan sumberdaya pesisir dan laut semakin penting untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.
Kabupaten Pandeglang dengan wilayah 2,75 ribu km2 terbagi menjadi 13 kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 1,13 juta jiwa, dimana hanya 5,22 ribu berprofesi sebagai nelayan atau penangkap ikan yang tersebar di 8 wilayah pesisir bagian barat dan selatan Kabupaten Pandeglang, diantaranya kecamatan Labuan, Carita, Sukanegara, Panimbang, Citeurep, Sumur (Ujung Kulon), Tamanjaya, dan Sidamukti dengan produksi ikan laut sebesar 23,61 ribu ton per tahun (data BPS, 2006). Posisi garis pantai Kabupaten Pandeglang adalah yang menghadap Selat Sunda dengan panjang pantai sekitar 182,8 km, dan yang menghadap Samudera Indonesia sekitar 47,2 km. Kekayaan alam kelautan dan sumberdaya pesisir yang dimiliki Kabupaten Pandeglang tersebut antara lain berupa sumberdaya perikanan, sumberdaya hayati seperti mangrove (hutan bakau), terumbu karang, padang lamun, serta sumberdaya mineral seperti minyak bumi dan gas alam (yang masih dalam penelitian) termasuk bahan tambang lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sejumlah potensi laut yang dapat dikembangkan diantaranya ikan hasil budidaya laut (teluk), kakap, kerapu, tongkol dan udang (penangkapan laut), udang windu, nila merah dan nila gift (budidaya tambak, ikan mas dan nila (budidaya jaring terapung).
Selain kekayaan alam laut yang melimpah, masyarakat pesisir Kabupaten Pandeglang juga memanfaatkan laut sebagai budidaya kerang-kerangan terutama kerang hijau. Kerang merupakan sumber daya hayati laut yang banyak tersedia di perairan Kabupaten Pandeglang, biota ini dapat dibudidayakan dan bersifat ramah lingkungan antara lain karena dalam proses budidayanya tidak memerlukan pakan. Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu jenis kerang yang sangat digemari masyarakat, Kerang juga mempunyai nilai ekonomis baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun eksport.
Dengan karakteristik wilayah pesisir seperti di atas, maka pemanfaatan sumberdaya pesisir secara optimal dan berkesinambungan hanya dapat terwujud jika pengelolaannya dilakukan secara terpadu, menerapkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan serta pendekatan pembangunnan secara hati-hati.
BAB II
POTENSI WILAYAH PESISIR DAN KELAUTAN
2.1. Ekosistem Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir bagian barat yang menghadap Selat Sunda dan wilayah pesisir yang menghadap Samudera Indonesia masing-masing memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda. Wilayah pesisir yang menghadap Selat Sunda jarang sekali ditumbuhi hutan mangrove, namun sering ditemukan gugusan terumbu karang, karena memiliki tipologi berbatu dan berpasir. Demikian juga wilayah pesisir yang menghadap ke Samudera Indonesia, kecuali wilayah pesisir Ujung Kulon yang merupakan wisata Taman Nasional, masih banyak ditumbuhi hutan mangrove, lamun dan rumput laut.
a. Hutan Mangrove
Mangrove merupakan tumbuhan pantai yang dapat tumbuh baik di lingkungan tropis maupun subtropis. Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan labil. Daerah pertumbuhan mangrove merupakan suatu ekosistem yang spesifik, hal ini disebabkan oleh adanya proses kehidupan biota (flora dan fauna) yang saling berkaitan baik yang terdapat di daratan maupun di lautan.
Jenis-jenis mangrove yang paling umum di wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang kurang lebih 1.761,39 Ha (data SDKP Banten) ialah Padi-padi (Lumnitzera Racemosa ), Api-api ( Avicena Spp), Bakau-bakau (Rhizophora ), Bogem (Sonneratia Alba), Pedada (Bruguiera Spp), Nypa Fructicans dan Pakis Rawa (Acrostichum Aureum) di muara sungai payau. Hutan mangrove yang luas terdapat pada jalur sepanjang sisi utara tanah Genting meluas ke arah utara sepanjang pantai sampai Sungai Cikalong dan Legon Lentah Pulau Panaitan. Di atas sebelah barat laut Pulau Handeuleum dan kedua pulau kecil di sebelah selatan dekat Pulau Handeuleum terdapat hutan rawa Nypha yang tidak begitu luas, juga di muara Cijungkulon dan Cigenter di Pantai Utara Semenanjung Ujung Kulon. Hutan mangrove juga dijumpai di pulau-pulau kecil seperti Pamagangan, Boboko, Peucang, Panaitan, Deli, dan Tinjil.
b. Rumput Laut
Rumput laut (Seaweed) merupakan salah satu komoditi eksporIndonesia untuk memasok pasar Internasional. Rumput laut yang diperdagangkan ini merupakan makro algae multiseluler dan dalam taksonomi diklasifikasikan ke dalam divisio Thalophyta. Divisio ini mempunyai empat kelas besar yaitu Rhodophyceae (alga merah), Phaeophyceae (alga coklat),Chlorophyceae (alga hijau) dan Cyanophyceae (alga biru­hijau). Keempat kelas tersebut dibedakan berdasarkan kandungan pigmen dan khlorofil.
Rhodophyceae umumnya berwarna merah, coklat, nila dan bahkan hijau dan mengandung sel pigmen fikoeritin. Phaeophyceae umumnya berwarna kuning kecoklatan karena sel­-selnya mengandung khlorofil a dan c.Clhorophyceae umumnya berwarna hijau karena sel-selnya mengandung khlorofil a dan b dengan sedikit karoten.
Sebaran jenis-jenis rumput laut tersebut di perairan ditentukan oleh kecocokan habitatnya. Habitat rumput laut umumya adalah pada rataan terumbu karang dan menempel pada subtrat benda keras berupa pasir, karang, pecahan karang mati atau kulit kerang. Sesuai dengan lingkungan terumbu karang, tempat tumbuh rumput laut kebanyakan jauh dari muara sungai.
Jenis-­jenis rumput laut yang ditemukan di perairan antara lain dari margaEuchema dan Hypnea (penghasil keraginan), Gracilaria dan Gelidium (penghasil agar) termasuk ke dalam kelas Rhodophyceae serta Sargassum dan Turbinaria(penghasil alginat) yang merupakan kelas Phaeophyceae.
Rumput laut dalam kondisi alami di Kabupaten Pandeglang hanya dijumpai pada pulau Liwungan. Namun demikian wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang, terutama pulau-pulau kecil yang berbatu dan banyak terdapat terumbu karang sangat berpotensi untuk budidaya rumput laut, diantaranya pulauPopole, Oar, Sumur, Omang, Mangir, Deli, Tinjil, dan Badul.
c. Padang Lamun
Lamun (seagras) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup di bawah permukaan air laut. Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir, sering juga dijumpai di ekosistem terumbu karang. Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya mirip pita dan berakar jalar.
Padang lamun banyak dijumpai di pulau-pulau Pamagangan, Boboko, Handeuleum, Peucang, dan Panaitan, Kabupaten Pandeglang seluas 1.139,22 Ha.
d. Terumbu Karang
Terumbu karang adalah ekosistem maritim yang unik, kompleks dan khas, terdapat di wilayah tropis dan subtropis, dibentuk oleh komunitas binatang karang selama ratusan tahun. Secara geomorfologis, terumbu karang dapat berbentuk karang tepi (fringing reef), karang penghalang (barrier reef) dan karang cincin (atoll), serta karang datar/takat (platform reef/patch reef)
Bentuk wilayah terumbu karang, pada umumnya di wilayah laut yang sangat dangkal, dan pada umumnya pada pantai dan dekat pantai. Luas terumbu karang di Kabupaten Pandeglang seluas 1.315 hektar, namun 543 hektar atau 41,29 % mengalami kerusakan. Sebaran terumbu karang terdapat pada wilayah kepulauan atau pulau-pulau kecil dengan curah hujan yang relatif rendah, ataupun pantai pulau besar yang jauh dari muara sungai delta dan pantai berlumpur. Terumbu karang banyak dijumpai di wilayah pesisir Ujung Kulon (33 jenis terumbu karang) dan beberapa wilayah pesisir di pulau-pulau kecil seperti Pamagangan, Boboko, Handeuleum, Peucang, Panaitan dan Badul.
2.2. Pemanfaatan Ekosistem Laut
– Mangrove. Manfaat dan fungsi ekosistem mangrove adalah sebagai habitat yang berperan penting sebagai tempat berpijah dan tepat asuhan berbagai jenis ikan, udang dan biota lainnya serta merupakan habitat berbagai jenis burung, mamalia dan reptil.
Di samping itu ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu dari beberapa ekosistem yang mempunyai produktivitas tinggi setelah produktivitas primer hutan hujan dan terumbu karang. Selain itu manfaat langsung dari hutan mangrove yang dapat dirasakan manusia adalah kayu pohon mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, bahan arang, bahan pulp. Hutan mangrove berfungsi sebagai peredam energi gelombang dan penahan laju abrasi bahkan sebagai penjerat material sedimentasi.
– Rumput Laut. Ada 61 jenis dari 27 marga yang telah dimanfaatkan untuk makanan dan bahan baku industri serta 21 jenis dari 12 marga digunakan untuk obat tradisional. Sudah sejak lama masyarakat memanfaatkan komunitas rumput laut alami ini untuk dipanen dan diperjualbelikan. Karena intensitas pemanenan yang tinggi maka produksi rumput laut dari alam semakin lama semakin berkurang.
Rumput laut dikelompokkan berdasarkan kandungan kimia yaitu Agarofitadalah kelompok rumput laut penghasil agar, Karagenofit kelompok rumput laut penghasil karagenan, Alginofit kelompok rumput laut penghasil alginat. Pemanfaatan rumput laut di Kabupaten Pandeglang ini masih sangat minim dan perlu dikembangkan untuk mendapatkan tambahan penghasilan bagi masyarakat pantai.
Padang Lamun. Fungsi utama padang lamun adalah dapat menstabilkan dasar laut, perangkap sedimen, makanan bagi jenis biota lain, tumbuhnya bermacam-macam habitat laut, tumbuh ganggang dan alga yang merupakan makanan ikan, dan dapat digunakan sebagai makanan dan bahan pupuk, misalkan jenis samo-samo (enhalus acoroides). Padang lamun sering terdapat di perairan laut antara hutan mangrove dan terumbu karang.
-Terumbu Karang. Manfaat dan fungsi dari terumbu karang adalah menyumbang pada perikanan dalam tiga hal yaitu, penangkapan ikan langsung di atas karang, penangkapan ikan diperairan pantai dangkal yang mendapat dukungan rantai makanan, siklus hidup dan produktivitas dari terumbu karang dan penangkapan ikan di lepas pantai.
Bagi manusia terumbu karang berguna sebagai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai gudang makanan, obat dan bahan kosmetik, lokasi wisata dan olahraga dan dalam bidang ilmu pengetahuan sebagai objek studi dan penelitian. Bagi biota lainnya, terumbu karang merupakan ekosistem marine yang mempunyai keunikan dalam fungsi habitat, komunitas koloni dan simbiosis dari berbagai biota marine, baik flora dan fauna. Terhadap suatu pulau, terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari ancaman abrasi dan degradasi.
2.3. Pemanfaatan Potensi Wilayah Pesisir dan Kelautan
Wilayah pesisir dan laut Kabupaten Pandeglang sangat berpotensi bagi perekonomian masyarakat pesisir maupun pemerintah Kabupaten Pandeglang. Beberapa potensi laut dan pesisir yang telah dimanfaatkan sejak lama diantaranya perikanan tangkap, dan budidaya kerang-kerangan, sedangkan potensi wilayah pesisir yang belum dimanfaatkan secara optimal diantaranya budidaya udang, rumput laut dan bandeng yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki pasar yang luas di dalam negeri dan luar negeri.
2.3.1. Perikanan Tangkap
Pemanfaatan hasil laut yang menjadi komoditi unggulan Kabupaten Pandeglang diantaranya penangkapan ikan karapu, kakap, tongkol dan udang. Produksi perikanan laut yang siap diolah selama tahun 2006 mencapai 23,61 ribu ton (data BPS), yang digunakan untuk dikonsumsi segar, digaramkan, dipindang dan lain-lain. Walaupun kelautan Kabupaten Pandeglang mempunyai potensi biota ikan cakalang dan tuna, namun pemanfaatannya belum optimal.
2.3.2. Budidaya Kerang Hijau
Budidaya kerang hijau dikembangkan di kecamatan Panimbang dan Citereup Kabupaten Pandeglang. Mengingat akan melimpahnya potensi sumber daya kerang hijau dan mudah dibudidayakan serta modelnya relatif sederhana maka budidaya kerang hijau menjadi salah satu upaya dalam menyedikan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan pemenuhan gizi atau protein hewani yang murah. Hal ini sangat membantu bagi peningkatan produksi perikanan pada umumnya.
Kerang merupakan sumber daya hayati laut yang banyak tersedia di perairan pesisir Kabupaten Pandeglang, biota ini mudah dibudidayakan dan bersifat ramah lingkungan antara lain karena dalam proses budidayanya tidak memerlukan pakan. Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu jenis kerang yang sangat digemari masyarakat. Kerang jenis ini juga mempunyai nilai ekonomis baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Usaha budidaya kerang hijau (Perna viridis) memiliki potensi usaha yang menguntungkan dan berpeluang besar untuk diekspor karena memiliki nilai jual yang tinggi, jika berjalan sinergi antara kesinambungan produk, pengawasan mutu produk dan pemilihan kondisi produk yang bernilai jual tinggi, maka produk kekerangan di Kabupaten Pandeglang dapat menembus pasaran Asia dan Uni Eropa, Keuntungan dari budidaya kerang hijau adalah tidak ada pemberian pakan dan serangan penyakit yang mematikan.
Biasanya apabila permintaan pasar lokal meningkat, maka usaha budidaya kerang hijau makin diintensifkan. Kegiatan pengolahan kerang hijau menghasilkan limbah padat yang cukup tinggi. Besarnya jumlah limbah padat cangkang kerang hijau yang dihasilkan, maka diperlukan upaya serius untuk menanganinya agar dapat bermanfaat dan mengurangi dampak negative terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Selama ini limbah padat kerang berupa cangkang hanya dimanfaatkan sebagai salah satu materi hiasan dinding, hasil kerajinan, atau bahkan sebagai campuran pakan ternak. Pengolahan limbah tersebut tentunya belum mempunyai nilai tambah yang besar karena masih terbatas dari segi harga maupun jumlah produksinya. Upaya dalam pemanfaatan limbah tersebut berupa diversifikasi produk pangan manusia yang diformulasikan dalam bentuk tepung sebagai sumber kalsium alami dan diaplikasikan sebagai bahan fortifikasi dalam suatu produk krupuk.
Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) dan Balai Budidaya Laut (BBL) telah mengembangkan budidaya kekerangan di Perairan Panimbang Kabupaten Pandeglang seluas 2.316,5 hektare. Kerang hijau di pesisir Pandeglang perairannya cocok dan belum tercemar sama sekali, dibandingkan dengan perairan Teluk Jakarta yang sudah tercemar limbah industri. Negara pengimpor akan meloloskan ekspor kerang hijau dari Pandeglang, karena wilayah tersebut bebas pencemaran.
2.4. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Hayati
Untuk menjaga kelestarian sumberdaya hayati maka perlu kebijakan pengelolaan yang terpadu antara pemerintah, masyarakat dan swasta, diantaranya :
1. Mengupayakan pelestarian, perlindungan, dan peningkatan kondisi ekosistem (terumbu karang, rumput laut, padang lamun, dan mangrove)
2. Meningkatkan hubungan kerjasama antar institusi untuk dapat menyusun dan melaksanakan program-program pengelolaan ekosistem.
3. Menyusun rencana tata ruang dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut untuk mempertahankan kelestarian ekosistem.
4. Meningkatkan kerjasama, koordinasi dan kemitraan antara pemerintah dan pemerintah daerah serta masyarakat dalam pengambilan keputusan mengenai pengelolaan ekosistem.
5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pengembangan kegiatan ekonomi kerakyatan.
6. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, penelitian, sistem informasi, pendidikan dan pelatihan dalam pengelolaan ekosistem.
7. Menggali dan meningkatkan pendanaan untuk pengelolaan ekosistem.
Sedangkan strategi pembangunan ekonomi kelautan dan wilayah pessir yang dijalankan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir meliputi:
1. Optimalisasi sentra budidaya kerang.
2. Pemanfaatan garis pantai yang panjang untuk budidaya udang, bandeng, dan rumput laut.
3. Meningkatkan produktifitas ikan laut tangkapan.
4. Pengembangan budidaya alga.
5. Memperluas pasar komoditas kelautan.
6. Membangun industri pengolahan komoditas kelautan.
7. Program intensif penanaman pohon mangrove.
BAB III
PENUTUP
Dari uraian mengenai potensi wilayah pesisir dan kelautan di Kabupaten Pandeglang, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Kabupaten Pandeglang mempunyai wilayah pesisir yang cukup luas sepanjang 230 km, dimana 182,8 km menghadap ke Selat Sunda dan sepanjang 47,2 km menghadap ke Samudera Indonesia.
2. Kabupaten Pandeglang terbagi dalam 8 wilayah pesisir, diantaranya Labuan, Carita, Sukanegara, Panimbang, Citeurep, Sumur (Ujung Kulon), Tamanjaya, dan Sidamukti dengan produksi ikan laut rata-rata sebesar 23,61 ribu ton per tahun.
3. Sejumlah potensi laut yang dapat dikembangkan diantaranya ikan hasil budidaya laut (teluk), kakap, kerapu, tongkol dan udang (penangkapan laut), udang windu, nila merah dan nila gift (budidaya tambak, ikan mas dan nila (budidaya jaring terapung).
4. Untuk mendukung potensi kelautan dan wilayah pesisir, maka kelestarian ekosistem laut sangat diperlukan. Kelestarian hutan mangrove dan lamun alami masih banyak dijumpai di Ujung Kulon, serta terumbu karang yang seluas 1.315 km2 di pesisir barat dan selatan Kabupaten Pandeglang. Demikian juga rumput laut cukup memegang peranan dalam ekosistem laut di wilayah pesisir cukup banyak di pesisir pulau-pulau sebelah barat Kabupaten Pandeglang.
5. Salah satu upaya peningkatan perekonomian masyarakat pesisir di Kabupaten Pandeglang, dilakukan dengan mengembangkan budidaya kerang hijau (Perna Viridis) yang berkualitas dan bebas pencemaran.
6. Perlunya pengelolaan lingkungan untuk menjaga keutuhan terumbu karang, tumbuhan lamun, rumput laut dan berkembangnya hutan mangrove di sekitar wilayah pesisir yang sepanjang tahun makin berkurang, akibat kerusakan manusia. Rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove dapat mengakibatkan turunnya produksi ikan maupun biota lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. —————————— (2007), Pandeglang Dalam Angka 2007, BPS
2. Komaat, Joy (2007), Pentingnya Pengelolaan Tata Ruang Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil
3. ——————————- (2005) Sinkronisasi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, BLPHD
4. Setiawan, Asep (2006), Masterplan Pembangunan Provinsi Banten
5. ——————————- (2007), Potensi Kelautan dan Perikanan, KPDE
6. —————————— (2007) Sumber Daya Alam Dan Lingkungan Hidup, KPDE
7. —————————— (2005) Kerang Hijau Dari Teluk Jakarta Tak Layak DikonsumsiKapanlagi.com
8. ——————————-(2007) Pengembangan Budidaya Kerang Hijau, BKPMD
9. Wahyuni, Mita, Dr (2007) Kerupuk Tinggi Kalsium: Perbaikan Nilai Tambah Limbah Cangkang Kerang Hijau Melalui Aplikasi Teknologi Tepat Guna
10. —————————— (2006), Banten : Sentra Budidaya Kekerangan DiIndonesia, Info Banten
11. ——————————–(2005), Tipe Ekosistem Ujung KulonUjung-kulon.net


Sunday, January 24, 2016

Berlibur Ke Tanjung Lesung, Pandeglang Banten


Apabila Anda ingin merasakan sensasi wisata pantai yang indah dan nyaman, maka Tanjung Lesung patut dikunjungi oleh anda. karena Tanjung Lesung sudah menjadi Kawasan Wisata Ekonomi Khusus yang akan memanjakan anda dengan segala fasilitas dan tentunya privasi anda juga tak kan terganggangu.

Tanjung Lesung terletak di kawasan Pantai Barat Jawa, di Provinsi Banten. Pantai di pantai ini dikenal sebagai beberapa yang terbaik karena mereka menawarkan baik surfing, tempat berenang tenang, terumbu jauh sehat, dan mengundang pasir putih.

Hanya 3 jam naik mobil dari Jakarta ramai dan pendek 30-menit dari Carita, Tanjung Lesung adalah pilihan untuk liburan akhir pekan yang menyenangkan. Warga Jakarta dan pantai-penonton dari kota-kota lain di negara itu mungkin kawanan pantai barat ini daerah Jawa, tapi Tanjung Lesung akan tetap tenang dan swasta, karena ada akomodasi terbatas di sini. Keindahan dan ketenangan dari Tanjung Lesung daerah sekitarnya juga dimungkinkan oleh puncak legendaris Krakatau. Ini adalah pemandangan yang membuat Selat Sunda terkenal di seluruh dunia.


Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif. Gunung berapi ini membuat apa yang terkenal dikenal sebagai "Ring of Fire", sumbu dari sistem busur kepulauan Indonesia. Sebuah rantai pegunungan vulkanik membentuk tulang timur-barat sepanjang pulau Jawa. Krakatau atau Krakatau di Indonesia tidak diragukan lagi gunung berapi yang paling terkenal di Nusantara karena paling keras direkam bang dunia yang diciptakan pada tahun 1883. Hari ini daerah sekitar gunung megah subur dan kaya akan keanekaragaman hayati baik di darat dan di bawah air. Para ilmuwan dari seluruh dunia masih datang ke melakukan penelitian tentang kekayaan vulkanik Jawa Barat pantai dan alam sekitarnya.

Krakatau, pulau vulkanik terbuat dari lava telah tenang selama lebih dari satu abad sekarang. Sejarah grand yang mengguncang dunia selama bertahun-tahun masih dan selalu menjadi kisah besar dan menceritakan kembali. Meskipun demikian, Selat Sunda sekarang dibuat menarik dengan kehadiran Anak Krakatau (Anak Krakatau), massa vulkanik yang telah di mendidih sejak 1928. Pada saat semangat gunung kerabat akan mengirimkan hujan batu bercahaya dan asap bersendawa dan abu . Jika ada, itu hanya membuatnya bahkan lebih dari pemandangan magis untuk dikagumi dari jauh.

Friday, January 22, 2016

Si Hijau Yang (semoga) semakin Mempesona


Komoditas yang satu ini ternyata diminati pasar ekspor. Kerang hijau memiliki nilai gizi dan protein yang cukup tinggi bila dibandingkan makanan lainya. Teknologi membudidayakan si hijau ini pun juga sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Tak henti-hentinya pemerintah mendukung program perikanan nasional. Baik kepada para nelayan, pembu-didaya maupun kepada masyarakat yang baru mau terjun ke sektor ini. Belum lama ini misalnya, pemerintah akan membangun areal budidaya kerang hijau di beberapa wilayah. Diantaranya di pantai utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, serta di perairan Lampung. Masing-masing lokasi akan dibangun area baru seluas 3 hektare. Rencana ini terkait target pemerintah untuk memasuki pasar Uni Eropa untuk komoditas kerang hijau.

Tentunya selain untuk peningkatan produksi, kegiatan budidaya kerang hijau ini juga akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Jika menilik luas perairan kita yang mencapai kurang lebih 70 % dari total luas Indonesia bisa dijadikan sebagai modal yang besar untuk mengembangkan usaha budidaya laut.

“Potensi produksi kerang Indonesia cukup besar untuk bisa masuk ke pasar Uni Eropa”, ujar Dirjen Perikanan Budidaya Made L. Nurjana suatu ketika. Made juga mengatakan, DKP telah menyiapkan dana Rp 1,4 miliar untuk mem-bantu permodalan bagi para pembudidaya kerang hijau serta jenis kerang yang lain dan rumput laut. Dana tersebut bahkan telah disiapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana tersebut kini telah dititipkan ke lembaga perbankan sebagai penjamin bagi para pembudidaya dan nelayan yang akan mengembangkan usahanya.

Made optimistis dengan adanya kemudahan sumber permodalan dari bank, maka usaha budidaya kerang hijau akan dapat berkembang lebih besar lagi. Apalagi dalam usaha budidaya kerang hijau teknologinya tergolong sederhana dan tidak memerlukan biaya mahal. Pada dasarnya budidaya si hijau ini memang tidak memerlukan pakan maupun perawa-tan yang intensif.

Untuk investasinya diperkirakan hanya membutuhkan sekitar Rp 5 juta saja per unit usaha. Modal itu sudah termasuk untuk membangun rakit apung atau rakit tancap dan juga upah tenaga kerja. Budidaya ini selain dilakukan untuk mengantisipasi wilayah yang over fishing, juga sebagai alternatif lain bagi nelayan yang pendapatannya sudah berkurang dari overfishing itu sendiri.

Dengan budidaya kerang hijau (Perna viridis) ini, selain untuk konsumsi, komoditas ini juga dapat memperbaiki kualitas air laut yang ditempatinya. Karena biota laut ini diketahui memiliki sifat menyerap limbah beracun di habitatnya itu. Meski begitu usaha budidaya kerang hijau di tempat yang tercemar itu tidak disarankan untuk dikonsumsi, mela-inkan hanya sebagai resapan dari industri saja.

Banyak Daerah Sukses dari Si Hijau
Salah satu daerah yang berhasil mengembangkan budidaya ini adalah Banten dan Cirebon. Rata-rata para nelayan di Cirebon menghasilkan kerang hijau dari rakit apung dan rakit tancap sekitar 6 ton per unit dengan nilai sekitar Rp 4,2 juta. Kerang hijau yang baru dipanen dihargai Rp 700 per kg. Jika kerang sudah dibersihkan dan dilepas dari kulitnya bisa dijual Rp 1.200 per kg.

Untuk wilayah Cirebon saja diperkirakan bisa memproduksi kerang hijau sebanyak 10 ribu ton per tahun. Sedangkan Banten baru sekitar 3 ribu ton pertahun. Jika melihat kebutuhan untuk sebagian besar hotel dan restoran di Jakarta saja, yang setiap harinya membutuhkan setidaknya mencapai 100 ton kerang hijau. Tak heran bila peluang budidaya komoditas perikanan yang satu ini masih sangat terbuka luas.

Tak hanya itu, budidaya kerang hijau ini juga mempunyai hasil ikutan yang lain. Misalnya, cangkang yang memiliki warna cukup indah itu dapat digunakan sebagai bahan hia-san dan kerajinan rumah tangga. Selain itu dapat pula diolah menjadi grit sebagai bahan pakan ternak unggas.

Banyaknya permintaan ekspor akan komoditas ini dikarenakan kerang hijau memiliki nilai gizi tinggi dibandingkan dengan sumber makanan lainnya seperti daging sapi, kambing, ayam dan telur. Dagingnya mengandung beberapa mineral seperti kalsium, fosfor, besi, yodium, thiamin, riboflavin, niasin, asam panthothenat, pyridoxine, biotin, B-12 dan asam folic.

Komposisi kerang hijau terdiri dari: 40,8% air; 21,9% protein; 14,5% lemak; 18,5% karbohidrat; dan 4,3 % abu. Meskipun daging kerang hijau hanya sekitar 30% dari bobot keseluruhan (daging dan cangkang), tetapi dalam 100 gr daging kerang hijau mengandung 100 kalori yang tentunya sangat bermanfaat untuk ketahanan tubuh manusia.

Selain itu, pada daging kerang hijau juga terdapat zat yang dapat membantu meningkatkan kerja organ hati dalam tubuh manusia. Sedangkan ekstrak daging kerang hijau bermanfaat sebagai anti rematik dan arhtritis (penyakit radang sendi). Selain untuk konsumsi manusia daging kerang hijau digunakan pula sebagai alternatif pengganti tepung ikan.

Kerang hijau sendiri termasuk kedalam golongan binatang lunak (molusca). Bercangkang hijau yang hidup di laut dan menempel pada substrat seperti karang, tiang bagan, tiang dermaga, dan lain-lain. Kerang hijau dapat hidup pada perairan dengan kadar garam 27-35 0/00 pada kedalaman 1-7 meter.

Seekor kerang hijau dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 12.000.000 butir yang dilepaskan ke air. Setelah dibuahi, telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva dan hidup di perairan sebagai plankton. Setelah lebih kurang dua minggu, larva tersebut akan mencari substrat untuk menem-pel dan tumbuh menjadi kerang dewasa.

Benih kerang hijau dapat diperoleh dengan kolektor, yai-tu suatu benda padat yang berupa tali plastik (PE), jaring monofilamen, atau incin yang dibenamkan ke dalam air. Apabila di suatu perairan diperkirakan cocok untuk budidaya kerang hijau tetapi tidak ada benihnya, maka hal tersebut dapat diatasi dengan jalan transplantasi atau melakukan intro-duksi benih kerang hijau ke perairan tersebut.

Di Indonesia kerang hijau memijah sepanjang tahun, namun untuk bisa mendapatkan benih yang banyak biasanya bisa didapat pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli. Kecepatan pertumbuhan rata-rata 0,7-1,0 cm per bulan, dan setelah berumur 6-7 bulan kerang hijau dapat dipanen.

Secara ekonomi, budidaya kerang hijau dinilai sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, satu bagan Tancap yang berukuran 25 x 10 m2 mempunyai potensi produksi sekitar 20 – 28 ton kerang hijau dengan nilai jual bisa mencapai Rp 14.000.000 (jika asumsi harga per kilo Rp 500).

Berdasarkan perhitungan untuk memulai usaha budidaya diperlukan modal awal sekitar Rp 5.000.000. Lokasi budidaya kerang hijau disarankan di perairan yang relatif tenang (tidak terbuka), sehingga dapat menghindari ombak besar yang dapat merusak sarana produksi.

Teknik Budidaya Kerang
Budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan menggu-nakan 4 macam metoda yaitu: metoda tancap (post method), rakit apung (raft method), rakit tancap/rak (rack method) dan tali rentang (long line method).

Sedangkan kondisi lingkungan perairan antara lain harus terhindar dari gangguan arus kencang, perubahan suhu yang mendadak, dan salinitasnya antara 27-35 permil. Se-lain itu harus terhindar dari fluktuasi kadar garam yang tinggi, jauh dari pengaruh sungai besar, bebas dari pence-maran limbah industri dan rumah tangga karena dapat membahayakan untuk dikonsumsi.

Jenis-jenis kerang yang sampai saat ini sudah bisa dibudidayakan adalah :

1. Kerang darah (anadara granosa)
2. Kerang hijau (perna viridis)
3. Kerang mutiara (pinctada maxima)
4. Kerang abalone (haliotis asinina)

Kita akan ambil salah satu contoh teknik budidaya kerang hijau dengan menggunakan metode rakit apung. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya antara lain: tali, rakit (terdiri dari tali, bambu, pelampung) dan jangkar.

Rakit yang digunakan dalam metoda ini berfungsi untuk mengumpulkan spat (benih kerang). Dan sekaligus sebagai tempat pembesaran dengan menggunakan tali kolektor tempat menempelnya spat. Rakit terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kerangka untuk menggantungkan tali dan unit pelampung. Guna menyangga rakit supaya tetap menga-pungserta jangkar atau pemberat sebagai penahan rakit.

Ada dua macam bahan yang digunakan untuk membu-at kerangka yaitu bambu dan kayu, namun pada umumnya yang digunakan adalah bahan dari bambu. Untuk rakit dengan ukuran 6m x 8m (48 m2) dibutuhkan bambu 18 batang. Dengan jumlah tali gantungan untuk 1 unit adalah 96 tali dengan panjang 3 meter per tali. Sedangkan untuk pelampung menggunakan drum plastik sebanyak 8 buah. Dan untuk pemberatnya menggunakan ka-rung semen sebanyak 2 buah dengan bobot masing-ma-sing pemberat 25 kg.

Perairan dengan dasar berlumpur lebih cocok menggunakan tongkat kayu. Sedangkan jenis penahan/pemberat lainnya dapat digunakan pada dasar perairan berpasir.

Panen kerang hijau dapat dilakukan setelah kerang berumur 5 – 6 bulan atau telah berukuran 6 – 8 cm. Atau bisa juga disebut sebagai “ukuran tusuk”. Satu unit usaha dengan ukuran 6m x 8m dapat menghasilkan 2.880 kg kerang hijau.

Tali kolektor yang telah dipenuhi kerang hijau yang siap dipanen dibawa ke darat untuk dilakukan perontokan. Kerang dirontokkan dengan menggunakan alat lempeng besi yang tajam sehingga pada saat mengikis kerang, benang byssusnya tidak tercabut dari tubuhnya.

Setelah kerang dibersihkan dari lumpur, pasirdan hewan-hewan yang menempel, kemudian kerang direndam di air yang tidak tercemar dalam kondisi terkontrol (metoda depurasi). Tahap selanjutnya adalah penanganan daging kerang hijau. Untuk skala kecil dapat dilakukan secara manual.


Populer Bulan Ini